Scroll to top

 CUCU SAHABATKU LAHIR KEMBALI MELALUI KLONING
User

CUCU SAHABATKU LAHIR KEMBALI MELALUI KLONING

CERPEN FIKSI (BAGIAN PERTAMA)

 CUCU SAHABTKU LAHIR KEMBALI MELALUI KLONING

Oleh: Sjamsul Bahri

Baca Lainnya :

 Alumni FKH-IPB 1978

Ketemu Teman Lama

Pada suatu hari dibulan Desember 2019 tanpa disangka-sangka saya bertemu dengan seorang teman lama ketika kami pada awal tahun 1960-an masih di Sekolah Dasar di Tanjungkarang yang sekarang menjadi Kota Bandar Lampung.  Pertemuan itu terjadi ketika saya menemani anak dan cucu saya berbelanja di Mal Botani Square Bogor.  Ketika itu kami sekeluarga sedang menunggu pesanan makan siang di rumah makan Hokben, tiba-tiba ada seorang Bapak tua mendekati saya dan bertanya, ini Sjamsul ya...., belum sempat saya menjawab dia sudah mengenalkan dirinya bahwa ia adalah Sutomo teman SD di dekat pasar Bambu kuning Tanjungkarang.  Akhirnya saya ingat karena memang sekolah kami pada waktu itu jumlah muridnya tidak banyak, dan Sutomo adalah salah satu teman Kelas 6 SD yang lulusan terbaik pertama pada tahun 1964 sedangkan saya menempati peringkat ke-2 setelah Sutomo, oleh karena itu saya dengan cepat dapat mengingat beliau walaupun sudah berubah jauh.

Kemudian saya perkenalkan Sutomo dengan keluarga saya dan demikian juga beliau yang sedang bersama dengan istri dan anaknya.  Setelah itu kami ngobrol sebentar sambil berdiri, topik pembicaraan adalah tentang sekolah kami masing-masing setamat SD sampai ke Perguruan Tinggi dan Pekerjaan kami masing-masing. Rupanya Sutomo setamat SD langsung melanjutkan sekolah SMP sampai dengan Perguruan Tinggi di Yogyakarta.  Beliau tamatan Sarjana Ekonomi dari UGM dan akhli akuntansi berpendidikan lanjutan dari Amerika Serikat, dan bekerja sebagai konsultan diberbagai perusahaan asing dan domestik.  Dari segi ekonomi keluarga Sutomo sangat berkecukupan, demikian juga dengan putra tunggalnya adalah sarjana Teknik Perminyakan lulusan ITB yang bekerja di perusahaan minyak asing. Namun saya tidak melihat ada anak kecil  atau anak remaja bersama mereka, dan ketika saya bertanya berapa cucunya, terlihat beliau agak bersedih dan hanya menjawab bahwa cucunya baru satu.  Akhirnya karena pesanan makanan kami masing-masing telah datang, kamipun berpisah dan berjanji untuk mengobrol kembali dilain kesempatan sambil bertukar kartu nama.  Rupanya  beliau juga tinggal di Bogor disalah satu komplek perumahan Mewah Villa Duta berdasarkan alamat di kartu nama yang diberikan kepada saya.

Kisah mengharukan keluarga Sutomo

Seminggu setelah pertemuan kami, Sutomo menghubungi saya untuk ngobrol-ngobrol sambil makan siang di salah satu restoran.  Kali ini kami hanya berdua saja, rupanya Sutomo masih ingin bernostalgia tentang masa-masa kami sekolah di SD tahun 1960-an dan cerita tentang perjalanan sekolah serta karier kami masing-masing selama ini. Beliau sendiri juga tidak pernah mendengar keberadaan saya karena memang teman-teman kami hanya sedikit sehingga sulit mengetahu keberadaan teman-teman lainnya.  Sedangkan Sutomo sendiri sudah tidak mempunyai keluarga lagi di Lampung karena ia memang anak tunggal kelahiran Jawa Tengah dan ikut dengan orang tuanya ke Lampung pada awal tahun 1960-an sebagai transmigran. 

Dalam obrolan kami, Sutomo sempat menceritakan musibah yang menimpa cucu tunggalnya ketika umur 9 tahun wafat akibat menderita penyakit langka, sehingga ia merasa kesepian karena hanya hidup berdua dengan istrinya, sedangkan anak dan menentunya sudah mempunyai rumah sendiri.  Sutomo menceritakan hanya mempunyai satu anak bernama Dedy Sutomo, dan Dedy juga hanya memiliki satu anak (cucu) tunggal bernama Dina Sutomo.  Pada waktu Dina berumur 3 tahun, Dedy Sutomo mengalami sakit kanker disekitar prostat sehingga sempat menjalani terapi radiasi yang harus dilakukan selama berkali-kali.  Alhamdulillah sel kanker Dedy berhasil dilumpuhkan dengan terapi tersebut sehingga Dedypun dinyatakan sembuh. 

Sutomo dan Retno istrinya rupanya menginginkan Dedy mempunyai anak lagi agar Dina cucu satu satunya ada temannya, namun sampai Dina berumur 8 tahun, Dini istrinya Dedy masih juga belum hamil kembali, sehingga merekapun berobat dan berkonsultasi dengan dokter akhli dibidang reproduksi.  Betapa terkejutnya Dedy ketika hasil pemeriksaan dokter akhli andrologi dan akhli kandungan mengatakan bahwa Semen/sperma Dedy tidak mengandung sel spermatozoa sama sekali, padahal diawal sebelum Dedy sakit, produksi spermanya normal dan itu dibuktikan dengan hamilnya Dini dan lahirnya Dina.  Akhirnya para dokter berkesimpulan bahwa kemungkinan efek samping Radiasi untuk pengobatan kankernya adalah penyebabnya.  Cobaan hidup keluarga Sutomo tidak sampai disitu, karena pada saat Dina berusia 9 tahun mulai terlihat sering sakit-sakitan, dan setelah dilakukan pemeriksaan yang komprehensif oleh Tim dokter di Rumah sakit terkenal, ternyata Dina menderita penyakit langka semacam autoimun yang sulit untuk diobati. 

Hasil pemeriksaan dokter di Singapura juga sama bahwa Dina menderita autoimun dan akhirnya pada bulan September 2019 Dina menghembuskan nafas terahirnya, ia kembali kepada sang Khaliq.  Tidak dapat dibayangkan bagaimana sedihnya Sutomo dan istrinya terutama anak dan menantunya.  Menurut cerita Sutomo kesedihan ini berlangsung cukup lama sampai Dini ibu kandungnya Dina sempat mengalami depresi yang berkepanjangan.  Baru setelah tiga bulan dari wafatnya Dina, berkat pertolongan seorang Ustadjah yang sekaligus juga akhli kejiwaan yang secara terus menerus mendampingi Dini serta mengingatkan bahwa semua yang terjadi pada kita adalah atas kehendak Allah SWT, kita tidak tahu ada rahasia apa dibalik itu, yang jelas ini merupakan suatu cobaan dari Allah SWT kepada keluarga Sutomo.

Orang beriman harus percaya kepada takdir sebagaimana dalam rukun iman

Orang beriman dan muslim pada umumnya akan mengucapkan Innalillahi wainnailaihi rojiun ketika ia mengalami musibah yang artinya sesungguhnya kami adalah milik Allah Swt dan hanya kepadaNyalah kami akan kembali,  segala cobaan yang menimpa seseorang hamba adalah atas kehendak Allah SWT.  Firman Allah SWT ini terdapat dalam surat Al Baqoroh ayat 156.  Ucapan ini mengandung pesan bahwa seseorang agar tetap sabar, ikhlas dan kuat ketika tertimpa musibah, cobaan atau ujian.  Didalam Firman Allah SWT lainnya Kullu Nafsin Dzaiqotul Maut  yang artinya setiap yang bernyawa pasti akan mengalami kematian, dengan atau tanpa sebab, tidak perduli seberapa gigih usaha kita untuk menghindari kematian tersebut, kematian pasti akan datang pada waktu yang telah ditentukan oleh Allah SWT.  Kalimat ini terdapat dalam surat Ali Imran ayat 185 dan juga surat Al-Ankabut ayat 57. Jadi kematian itu adakah suatu ujian bagi orang-orang yang masih hidup terutama yang terkait langsung dengan orang yang mati, dalam hal ini kedua orang tua, dan para kerabat dekatnya seperti saudaranya dlsb. Semua orang beriman pasti tahu hal tersebut, sehingga jangan ada pertanyaan mengapa musibah ini menimpa anak yang baru berusia 9 tahun, karena mati itu tidak harus tua, tidak harus sakit dahulu, kapan saja Allah menghendaki pasti akan terjadi. Oleh karena itu setiap orang beriman harus yakin bahwa Allah SWT sudah menentukan umur seeorang namun kita tidak tau kapan pastinya.

Dari cerita musibah dan cobaan yang disampaikan Sutomo, saya dapat merasakan kesedihan yang dialami teman saya ini, karena tidak mungkin lagi putra tunggalnya Dedy mempunyai keturunan yang artinya sama saja bahwa tidak ada lagi yang dapat meneruskan garis keturunan Sutomo.  Orang beriman yakin bahwa itu adalah yang terbaik untuknya, yakinlah bahwa hanya Allah Azza Wa Jalla saja yang tahu tentang rahasia dibalik itu semua.  Walaupun kalau kita yang mengalami hal seperti ini mungkin memerlukan waktu yang cukup lama untuk dapat menerimanya dengan ikhlas.

Setelah suasana haru berlalu, Sutomo bertanya kepada saya apakah ada peluang Dedy anaknya dan Dini menantunya dapat mempunyai anak kembali melalui program bayi tabung misalnya.  Pertanyaan ini disampaikan kepada saya karena beliau sudah tahu kalau saya memiliki basis ilmu kedokteran hewan dan biologi reproduksi seperti yang saya ceritakan sebelumnya tentang latar belakang pendidikan saya. Saya jawab bahwa jika sel spermatozoa Dedy masih diproduksi walaupun jumlahnya sedikit, hal ini sangat memungkinkan.  Tentunya melalui program bayi tabung yang ditangani akhlinya dengan mengkoleksi spermatozoa Dedy dan dilakukan fertilisasi/ pembuahan buatan diluar rahim atau fertilisasi in vitro dengan sel telur/ovum berasal dari Dini.  Kemudian setelah terjadi pembuahan dan zigot atau embrio sudah berbentuk blastosis lalu dipindahkan ke dalam rahim Dini yang telah dikondisikan melalui pemberian hormon tertentu untuk siap menerima calon janin tersebut.  Namun jika spermatozoa Dedy sama sekali tidak terbentuk, tampaknya tidak mungkin dilakukan program bayi tabung. 

Cerita kloning pada hewan telah menginspirasi sahabatku

Dalam pembicaraan kami selanjutnya, saya malah banyak bercerita tentang IPTEK dibidang Rekayasa Genetik yang belum lama saya baca dari berbagai sumber, sampai kepada keberhasilan kloning pada berbagai spesies hewan yang diawali oleh keberhasilan Dr. Ian Wilmut ilmuwan dari Roslin Institute di Edinburgh Scotlandia dalam menciptakan kloning Domba Dolly pada tahun 1996 sebagai kloning hewan mamalia  pertama di dunia (saya pernah berkunjung ke Institusi ini pada tahun 1997). Termasuk juga keberhasilan kloning primata non manusia, yaitu  kera ekor panjang bernama Zhongzhong dan Huahua pada tahun 2017 oleh ilmuwan China.  Setelah saya jelaskan bagaimana proses penciptaan kloning domba Dolly yang berasal dari inti sel somatik kelenjar susu seekor domba dewasa yang ditransfer/dimasukkan kedalam sel telur berasal dari domba betina lainnya yang telah dikosongkan intinya di laboratorium, dan selanjutnya dengan perlakuan khusus sel telur tersebut berkembang menjadi zigot, morula dan blastula kemudian baru ditransfer/ ditransplantasikan kedalam rahim domba betina lainnya sehingga berkembang menjadi embrio, fetus dan akhirnya lahir sebagai domba yang diberinama domba Dolly.  Keberhasilan ini tidaklah mudah dimana Dr. Ian Wilmut dan koleganya baru berhasil setelah mereka melakukan 227 proses kloning. Jadi dalam proses kloning ini, embrio yang berkembang tersebut tanpa adanya keterlibatan sel spermatozoa karena itu disebut proses aseksual.

Keberhasilan kloning Domba Dolly kemudian diikuti dengan berbagai keberhasilan hewan kloning lainnya antara lain; kuda yang diberinama “Prometea” dari sel somatik kulit kuda dewasa pada tahun 2003; Anjing “Snuppy” pada tahun 2005 di Korea Selatan; Srigala Snuwolf dan Snuwolfy dari sel Punca pada tahun 2005 juga di Korsel; Kera “Zhongzhng dan Huahua” yang dikembangkan dari sel janin pada tahun 2017 di China; dan kucing “Garlic” 2.0. pada tahun 2019 di China.  Untuk membuat hewan kloning ini memerlukan biaya yang mahal, misalnya pada kloning kucing Garlic 2.0 dari sel somatik kucing yang telah mati  memerlukan biaya sebesar Rp495 juta.  Untuk kloning pada hewan, sudah banyak perusahaan komersial yang menerima jasa pemesanan kloning pada hewan, antara lain kloning hewan kesayangan yang telah mati seperti kucing “Garlic”, atau kloning hewan unggul baik untuk olah raga, untuk pelacak, dan untuk kepentingan lain dengan biaya yang cukup mahal sekitar $100.000. Tampaknya Sutomo sangat interes sekali dengan cerita bahwa kloning dapat dilakukan baik pada hewan yang masih hidup maupun yang telah mati sepanjang tersedia DNA materi genetiknya yang masih aktif dari sel somatik yang diawetkan.

Saat itu saya melihat Sutomo seperti sedang merenung, mungkin sedang memikirkan kemungkinan melakukan kloning cucunya yang telah meninggal.  Mungkin Sutomo terinspirasi dari keberhasilan kloning pada hewan yang telah mati (seperti kambing gunung Pyreneal Ibex yang punah tahun 2000 dan kloning kucing “Garlic” yang telah mati beberapa tahun).  Sebagaimana diceritakan dalam dokumen yang ada bahwa kambing gunung liar Pyrenean Ibex (Capra pyrenaica pyrenaica) yang hidup di daerah pegunungan di Pyrenees Spanyol dan Perancis  yang telah punah pada tahun 2000, namun sebelum kematian hewan yang terakhir pada 1999 sempat diambil spesimen biologis antara lain berupa jaringan telinga dan kulit yang diawetkan dalam nitrogen cair.  Pada tahun 2003 ilmuwan Spanyol dan Perancis mencoba untuk menghidupkan kembali kambing Ibex yang telah punah tersebut dengan menggunakan kloning seperti domba Dolly. DNA Ibex dalam inti sel somatik kulit yang diawetkan ini berhasil diisolasi kemudian ditransfer ke dalam sel telur kambing domestik yang telah dikosongkan intinya.  Proses kloning berhasil sampai bayi kambing Ibex tersebut lahir, namun sayangnya kambing tersebut mati setelah 10 menit karena gangguan pernafasan/ pada paru-paru.  Kloning yang berasal dari seekor kucing yang telah mati juga berhasil dilakukan dan lahir hidup sampai sekarang  yang dibernama kucing “Garlic” yang lahir pada 21 Juli 2019 di China. Dalam hal ini Ilmuwan China berhasil mentransfer Inti sel somatik kucing garlic yang telah mati ke dalam sel telur asal kucing lain yang telah dikosongkan intinya, kemudian sel telur ini berkembang menjadi zigot dan embrio dan selajutnya embrio ini ditransfer ke dalam rahim kucing pengganti yang telah dipersiapkan. Ide melahirkan kembali kucing “Garlic” yang telah mati ini adalah atas pesanan sipemilik yang kangen dengan kucing tersebut, dan membayar biaya sekitar setengah miliar rupiah.

Keinginan Sutomo untuk mencoba program kloning pada cucunya semakin menguat setelah mengetahui keberhasilan kloning pada hewan primata yang dekat kekerabatannya dengan manusia yang dilakukan oleh ilmuwan Cina pada tahun 2017,  dimana mereka berhasil mengatasi permasalahan/ kesulitan yang dialami oleh ilmuwan lain yang gagal dalam melakukan kloning pada hewan primata.  Cerita tentang keberhasilan kloning pada primata ini rupanya secara diam-diam menguatkan keinginan Sutomo untuk meminta Dedy agar mencoba program kloning  untuk melahirkan Dina kembali karena diyakininya bahwa materi genetik berupa DNA dari sel somatik Dina masih tersimpan di laboratorium suatu rumah sakit yang pernah mengambil sedikit jaringan tubuh Dina melalui proses biopsi. Namun Sutomo tidak mengemukakan keinginannya ini kepada saya karena ia tau bahwa saya secara tegas mengatakan bahwa kloning pada manusia walaupun secara teknis bisa dilakukan tetapi secara etika kedokteran dilarang, apalagi dalam agama islam jelas tidak diperbolehkan karena sudah mengarah kepada perbuatan yang dilarang agama dan dosa jika dilakukan.  Saya menceritakan proses kloning ini hanya sebagai informasi kemajuan ilmu pengetahuan saja, terutama untuk pengembangan dalam terapi atau pengobatan seperti donor organ asal hewan yang telah dimodifikasi/ diedit gen tertentu sesuai kebutuhan.

Ketika Sutomo bertanya lebih detail kepada saya bagaimana caranya mengkloning manusia seperti Dina yang telah setahun meninggal misalnya. Saya coba menjelaskan berdasarkan pengetahuan teori yang saya ketahui kebetulan saya banyak membacaca tentang proses kloning yang cukup menarik perhatian ilmuwan dibidang Biologi dan Kedokteran.  Memang  secara teori cucu Pak Sutomo, Dina yang telah meninggal pada tahun 2019 dapat “dilahirkan kembali” melalui proses teknologi kloning.  Sutomopun semakin antusias dan terus bertanya bagaimana caranya, saya ceritakan bahwa syaratnya masih tersedia sampel biologis yang selnya masih baik sehingga para akhli dapat mengisolasi sel somatik yang kemudian DNA nya dapat diisolasi dari inti sel somatik tersebut.  Kemudian sel telur dari Dini menantunya Pak Sutomo (kebetulan Dini masih usia produktif dan normal sistem reproduksinya) akan diambil untuk dikeluarkan isi dari nukleusnya.  Setelah itu DNA dari sel somatik Dina dimasukkan kedalam nukleus sel telur Dini yang telah kosong tersebut. Proses selanjutnya sel telur ini akan menjalani inkubasi sepertihalnya pada proses bayi tabung dengan perlakuan tertentu.  Jika ini berhasil berkembang menjadi zigot, morula, dan blastula, nantinya dipindahkan/ ditransfer ke rahim Dini atau wanita lain yang mau meminjamkan rahimnya untuk mengandung bayi tersebut.  Jika proses ini berhasil, maka bayi yang akan lahir memiliki rupa dan sifat-sifat yang mirip dengan Dina. 

Proses seperti ini yang dilakukan pada penciptaan domba Dolly maupun kloning pada hewan lainnya termasuk pada primata non manusia yaitu monyet Zhong-zhong dan Huahua yang lahir pada tahun 2017.  Saya bukan akhli kloning atau akhli rekayasa genetik tetapi penjelasan yang saya kemukakan ini hanya berdasarkan teori yang saya pahami setelah saya membaca berbagai tulisan yang menceritakan pristiwa kloning yang terjadi.  Tapi saya tegaskan kepada Sutomo jika tujuan bapak hanya ingin mengkloning cucu bapak sepertihal nya dengan domba Dolly sebaiknya tidak bapak lakukan. Tetapi mungkin lebih baik Bapak berkonsultasi dengan mereka untuk kemungkinan memperoleh sedikit sel spermatozoa Deddy dari organ testesnya dengan memberikan rangsangan atau treatmen tertentu sehingga dapat dilakukan fertilisasi in vitro dengan sel telur Dini istrinya sehingga dapat diperoleh bayi tabung secara normal.  Selain itu, saya sarankan agar Pak Sutomo juga  berkonsultasi dahulu dengan berbagai ulama yang mengetahui tentang kloning pada manusia menurut syariat Islam sehinggga bapak tidak salah jalan.

Sutomo setuju dengan saran saya bahwa ia akan berkonsultasi dengan para ulama dan para ilmuwan akhli kloning sehingga ia bertanya lagi dilaboratorium dan negara mana hal ini dapat dilakukan.  Saya katakan bahwa sudah banyak para ilmuwan dari berbagai negara yang melakukan hal ini secara profesional bahkan sebagian sudah komersial seperti perusahaan, namun semuanya pada hewan.  Untuk manusia sebenarnya pada prinsipnya bisa dilakukan apalagi dengan keberhasilan kloning pada hewan primata non human, namun teriikat dengan etika dan agama yang tidak membolehkan hal ini dilakukan.  Etika dibidang kedokteran sampai saat ini tidak membolehkan mengkloning manusia.  Jangan lagi kloning, mengedit sedikit gen saja pada embryo manusia seperti yang dilakukan Dr. He Jiankui akhli Rekayasa Genetik dari China yang telah melakukan editing gen pada bayi kembar manusia walaupun tujuannya baik untuk mengatasi sang bayi tertular AID, tetap saja disalahkan dan diberkan sangsi hukum.  Walaupun demikian saya memberikan alamat Institusi/ Lembaga dan perusahaan serta ilmuwan yang telah berhasil mengkloning hewan di beberapa negara.  Saya juga memberikan berbagai artikel tentang kloning pada hewan, karena memang kloning pada hewan cukup berkembang secara komersial walupun biayanya cukup mahal, terutama bagi para pemilik hewan yang menginginkan hewan kesayangannya yang telah mati untuk dilahirkan kembali.

Pilihan yang berat bagi keluarga Sutomo

Sebelum mengambil keputusan untuk menghubungi alamat laboratorium Bioteknologi yang menyediakan jasa kloning di beberapa negara, Sutomo berkonsultasi ke beberapa Ulama Terkenal di Indonesia mengenai kloning pada manusia. Dari konsultasi tersebut Sutomo berkesimpulan bahwa sebagian besar dari mereka menjelaskan bahwa alasan tidak diperbolehkan karena: 1) Proses pembuahan yang dilanjutkan dengan pembentukan janin tidak terjadi secara alami yaitu bercampurnya spermatozoa suami dengan sel telur istri, hal ini sesuai dengan firman Allah SWT “Hai manusia sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan” (surat Al Hujuurat ayat 13); 2) Sianak yang akan dilahirkan tidak mempunyai bapak kandung karena prosesnya aseksual; 3) Keturunan si anak menjadi tidak jelas; dan 4) Tidak memiliki ibu kandung jika menggunakan rahim wanita lain. Jika ini terjadi maka kloning bertentangn dengan Al Quran karena secara teologis kloning manusia otomatis bertentangan dengan aqidah yang diyakini umat islam.  Namun dalam kasus kloning keluarga Sutomo ini berbeda yaitu: 1) DNA inti sel somatik yang akan diklon adalah jelas keturunan dan asal usulnya yaitu anak keturunan dari Dedy sang ayah dan Dini sang ibu kandungnya; 2) sel telur yang digunakan juga berasal dari Dini istrinya Dedy; 3) Rahim yang digunakan dalam proses kehamilan adalah Dini sendiri sehingga jelas sebagai ibu kandungnya.  Yang menjadi pertanyaan besar adalah bahwa DNA yang akan dikloning ini berasal dari anaknya Dedy dan Dini yang telah meninggal.  Jadi jika hanya berdasarkan asal usul keturunan dan hak waris serta tatanan kehdupan sosial masyarakat, maka kloning Dina ini tidak ada masalah.  Oleh karena itu Sutomo menganggap kloning yang akan dilakukan pada Dina bisa dijalankan.

Rupanya Sutomo merenungkan hal ini berhari-hari tentang kemungkinan mengkloning cucunya yang telah wafat, dan Sutomo yakin jika materi genetik DNA dari sel somatik Dina dapat diperoleh dari laboratorium yang memeriksa Dina ketika sakit, bahkan pernah beberapa kali Dina dibiopsi dan spesimen yang disimpan dalam es atau nitrogen cair karena pada waktu itu untuk keperluan uji alternatif atau second opinion ke lab lain.  Akhirnys Sutomo membicarakan hal ini kepada anak dan menantunya.  Keadaan ini semakin menimbulkan kerinduan Dini untuk melihat kembali Dina  setelah mengetahui bahwa sel somatik Dina dapat dikloning sehingga menjadi bayi yang secara genetik (genotif dan fenotip)  sama dengan Dina.  Setelah melalui berbagai pertimbangan mereka sepakat untuk mencoba melakukan rencana tersebut.  Mereka bertiga akhirnya berkomunikasi dengan alamat laboratorium yang dapat melakukan hal tersebut di luar negeri.  Karena ini bersifat rahasia, mereka diminta untuk datang bertemu Tim yang menangani proses kloning, menjajagi spesimen biologis yang tersedia, kesehatan reproduksi Dini untuk kemungkinan memperoleh sel telurnya serta alat reproduksi jika nanti embrio tersebut ditanam dalam rahim Dini, serta juga besaran biaya yang harus dibayar.

Akhirnya Dina dilahirkan kembali (BERSAMBUNG KE BAGIAN KE-2)

Bogor, 25 Februari 2022

Sjamsul Bahri

Cerpen Fiksi Bagian Pertama ini telah di upload pada Face Book Sjamsul Bahri tgl 25 Februari 2022.


Write a Facebook Comment

Leave a Comments