Scroll to top

CERPEN FIKSI (BAGIAN KE-2)   CUCU SAHABATKU LAHIR KEMBALI MELALUI KLONING
User

CERPEN FIKSI (BAGIAN KE-2) CUCU SAHABATKU LAHIR KEMBALI MELALUI KLONING

CERPEN FIKSI (BAGIAN KE-2)

 CUCU SAHABTKU LAHIR KEMBALI MELALUI KLONING

Oleh: Sjamsul Bahri

Baca Lainnya :

 Alumni FKH-IPB 1978

Akhirnya Dina dilahirkan kembali

Singkat cerita semua persyaratan teknis untuk proses  kloning dianggap memenuhi syarat dengan tarif $120.000 sampai si bayi lahir melalui caesar. Sutomo dan istrinya ikut menemani Dedy dan Dini Ke suatu negara di Asia yang berpengalaman melakukan kloning dengan tingkat keberhasilan yang cukup tinggi.  Oleh karena itu pada proses isolasi DNA dari inti sel somatik Dina di laboratorium berjalan lancar, demikian juga dengan proses transfer DNA Dina ke dalam sel telur Dini yang telah dikosongkan intinya berjalan lancar sampai terjadi pembelahan sel membentuk zigot, morula dan blastula yang siap untuk ditransfer ke dalam rahim Dini. Pada proses kloning pertama janin gagal berkembang setelah seminggu ditanam dalam rahim Dini, sedangkan pada proses kloning yang kedua Dini mengalami keguguran setelah janin berusia 3 bulan, diduga karena Dini masih belum siap secara mental sehingga produksi hormon reproduksi tidak stabil. Akhirnya proses kloning ini berhasil pada pengulangan yang ketiga kalinya dan lahirlah bayi tersebut yang diberinama Dinda yang menurut Dini wajahnya sangat mirip dengan wajah Dina ketika bayi, seperti yang ditunjukkan di foto Dina ketika bayi.  Atas kelahiran bayi tersebut Sutomo dan istrinya sangat gembira, demikian juga anaknya Dedy dan menantunya Dini.  Dini merasa gembira sejak bayi kloning tersebut tumbuh normal dalam kandungan, ia merasa memang ini anak kandungnya bersama suaminya karena semua materi genetiknya berasal dari mereka berdua.

Rupanya untuk mengantisipasi kegagalan berikutnya telah disepakati antara keluarga Dedy dengan Tim Kloning bahwa selain calon embrio tersebut ditanam dalam rahim Dini juga ditanam pada rahim wanita lain bernama Voni yang bersedia disewa rahimnya dengan biaya tambahan $30.000.  Ternyata bayi ini juga tumbuh dan berkembang dengan baik dan lahir dengan operasi sesar pada hari yang sama dengan selisih waktu 30 menit dari bayi yang dikandung Dini, sehingga Dedy dan Dini memiliki 2 bayi kloning kembar, dan diberi nama Dindi  sebagai adiknya Dinda.

Dini dan Voni ditempatkan diruang khusus terpisah dari pasien-pasien lainnya, demikian juga bayinya menempati tempat khusus sendiri tidak dicampur dengan bayi-bayi lainnya.  Mereka berada dalam ruangan steril untuk beberapa minggu untuk mencegah terjadinya infeksi sampai si bayi terlihat sehat dan tumbuh normal. Mereka tinggal di ruang paviliun khusus selama 6 bulan, terutama untuk kepentingan pemantauan dokter dan akhli yang menangani kloning selain untuk menghindari pertemuan dengan banyak orang.  Sebagaimana dengan bayi-bayi lainnya Dinda dan Dindi juga mendapatkan perawatan program vaksinasi seutuhnya dengan pengawasan dokter.  Setelah bayi berumur 6 bulan baru  mereka diperbolehkan pulang ke Indonesia. 

Dinda dan Dindi yang sulit dibedakan tetapi sangat menyenangkan

Enambulan setelah kelahiran Dinda dan Dindi, baru Sutomo menghubungi saya dan meminta maaf bahwa beliau baru sempat menghubungi saya, dan menceritakan bahwa akhirnya ia memutuskan untuk memilih kloning dengan berbagai pertimbangan, dan kini telah mendapatkan cucunya kembali bahkan bukan cuma satu tetapi dua bayi kembar yang diberinama Dinda dan Dindi yang berasal dari kloning sel somatik Dina.  Sutomo mengucapkan banyak terimakasih kepada saya karena hal ini terinspirasi setelah mendengar cerita dan penjelasan dari saya, dan tidak mungkin hal ini terjadi jika ia tidak bertemu dengan saya.  Sutomo terdengar sangat gembira dalam pembicaraan tersebut dengan lahirnya Dinda dan Dindi cucunya. Tetapi diakhir pembicaraannya dia masih cemas apakah tindakan beliau ini salah dimata Allah Swt karena proses reproduksi dan kelahiran cucunya tidak terjadi secara alami.  Sutomo juga meminta kepada saya agar saya tidak menyebarluaskan kelahiran bayi kloning cucunya ini, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Sutomo juga menceritakan bahwa untuk menghindari berita-berita yang kurang enak didengar, maka Dedy dan Dini yang sejak 19 bulan yang lalu telah berada di luar negeri, tidak kembali kerumahnya tetapi mereka kembali tinggal dirumah Sutomo.  Tetangga Dedy hanya tau kalau Dini sedang melakukan proses bayi tabung di luar negeri. Oleh karena itu semua orang hanya tau bahwa kedua bayi kembar itu adalah hasil dari program bayi tabung. Beberapa tetangga dekat Sutomo yang sempat menengok cucunya Sutomo selalu mengatakan bahwa Dinda dan Dindi sangat mirip dan susah dibedakan, demikian juga dengan suara tangisannya.

Pada saat Dinda dan Dindi berusia 3 tahun dan tampak pertumbuhan dan kesehatannya normal, barulah Dedy pindah kembali kerumahnya.  Ketika beberapa tetangga dekat Dedy berkunjung untuk menengok si bayi kembar, semuanya mengatakan sangat mirip baik wajah maupun suara bicaranya.  Bahkan tetangga lama yang sudah mengenal Dina sejak kecil mengatakan bahwa Dinda dan Dindi sangat mirip dengan Dina ketika berumur 3 tahun.  Kebetulan dirumah Dedy masih terpasang foto Dina ketika berumur 3 tahun maupun yang berumur 4 tahun.

Dedy, Dini, Sutomo dan istrinya semakin gembira karena setelah semakin besar Dinda dan Dindi tampak semakin mirip persis dengan Dina, mereka dapat membandingkannya dengan foto-foto Dina yang masih tersimpan rapi.  Dindapun tumbuh sehat dan ketika pada usia 5 tahun dan bicaranya sudah semakin lancar, dia mengatakan kok foto-foto Dinda ada di tempat yang dia merasa belum pernah kesana, apalagi ketika ia melihat foto Dina yang telah berumur 7 dan 8 tahun, ia bertanya kok Dinda sudah besar.  Ketika Dinda berumur 8 tahun akhirnya orangtuanya menjelaskan bahwa itu Foto Dina kakaknya Dinda dan Dindi yang telah wafat ketika berumur 9 tahun.

Ketika Dinda dan Dindi berumur 6 tahun, Dedy memasukkan mereka ke sekolah Dasar ditempat Dina dulu bersekolah.  Karuan saja para guru yang sebagian besar pernah mengajar Dina pada terkesima dan kaget ketika melihat Dinda dan Dindi, mereka merasa seakan-akan Dina hidup kembali dan kini dengan saudara kembarnya.  Hal demikian menjadi pembicaraan utama diantara para guru yang mengenal Dina.  Namun para murid sekolah hanya kagum akan kemiripan Dinda dan Dindi, tetapi mereka tidak mengenal Dina karena masa sekolahnya berbeda. Namun salah seorang teman Dina yang saat ini telah duduk dibangku SMA dan kebetulan datang kesekolah dasar tersebut (karena orangtuanya seorang guru di SD tersebut) kaget ketika bertemu dengan Dinda dan Dindi, ia merasa itu Dina yang dulu temannya, sampai cukup lama ia terperangah ketika diajak bicara suaranya juga persis sama, demikian juga senyumnya, tertawanya semuanya sama persis dengan suara, senyum dan tertawa Dina.  Semua orang, baik saudara, sanak famili, sahabat dan teman-temannya Sutomo, maupun temannya Dedy dan Dini selalu berkomentar bahwa Dinda dan Dindi sebagai titisan Dina yang hidup kembali karena kemiripannya yang nyaris sempurna.

Ketika mereka memasuki usia 13 tahun dan melanjutkan ketingkat SMP atau kelas VII, rupanya Dinda dan Dindi mempunyai sifat periang dan banyak berkelakar/ bergurau dan suka berbuat iseng.  Banyak cerita lucu atas kejadian yang mereka alami, hal ini berkaitan dengan kesulitan orang lain untuk membedakan mana yang Dinda dan mana Dindi karena mereka cenderung selalu ingin menggunakan pakaian yang sama, model rambut yang juga sama, sehingga jika salah satu dari mereka pergi atau bermain dengan teman-temannya, mereka bersepakat untuk bercerita kesaudaranya tentang apa saja yang mereka lakukan atau kerjakan.  Sehingga ketika ada tugas atau pekerjaan yang harus dilakukan oleh salah satu saudaranya mereka dapat bergantian berperan sebagai yang terlibat.  Demikian juga jika ada kebutuhan pas foto untuk Dinda namun karena Dinda tidak bawa, dia bisa minta tolong kepada Dindi untuk meminjamkan fotonya jika kebetulan Dindi membawa pas fotonya.  Demikian juga ketika perlombaan olah raga perorangan antar sekolah, maka jika Dindi yang lebih trampil, dia yang akan tampil walaupun yang tercatat adalah Dinda, dia mengaku saja sebagai Dinda.  Itu adalah beberapa cerita lucu yang mereka lakukan secara iseng saja.

Pernah ada kejuaraan maraton dalam rangka 17 Agustusan, Dinda dan Dindi kembali berulah dengan mengerjai panitia bahwa dengan menggunakan HP dan berbaju olah raga yang sama, sepatu sama dan model rambut sama, mereka bersepakat bahwa distart awal Dinda yang beraksi, kemudian ditengah perjalanan Dinda menghilang, dan muncul Dindi di posisi sepertiga bagian mencapai Finis, sehingga akhirnya Dinda dianggap sebagai yang tercepat karena finis pertama.   Namun ketika ingin diberi hadiah mereka menceritakan kepada panitia hal tersebut sehingga semua orang menjadi tertawa dan hadiah diberikan kepada yang juara kedua.  Cerita ini hanya sebagian cerita lucu memanfaatkan kesulitan orang lain untuk membedakan keduanya.  Memang mereka mempunyai sifat bergurau yang tidak serius hanya untuk lucu-lucuan saja, sehingga banyak teman-temannya menyenangi mereka berdua.

Namun karena para guru mereka merasa kesulitan untuk membedakannya, maka kepala sekolah meminta kepada orangtua Dinda dan Dindi untuk membedakan model rambut mereka sehingga para guru tidak salah jika menugaskan mereka.  Demikian juga dengan teman temannya. Ternyata memiliki murid kembar yang sangat mirip jadi merepotkan sekolah juga ya.  Bagaimana jika mereka telah dewasa dan mempunyai pacar, waduh bisa-bisa sang pacar salah orang.

Sutomo dan putra tunggalnya Dedy merasa bahagia sekali karena mereka masih mempunyai harapan untuk memperpanjang keturunan generasinya sehingga mempunyai rencana kelak ketika Dinda telah dewasa dan menikah, In Sya Allah akan memperoleh keturunan dari cicitnya Sutomo atau cucunya Dedy.  Hal ini sudah terbayang dibenak mereka. Pemikiran mereka didasarkan kepada cerita yang mereka baca tentang domba kloning Dolly yang berhasil mempunyai anak dari perkawinan normal dengan domba jantan normal, bahkan sampai tiga kali melahirkan.

Protes saya kepada Sutomo

Setelah Sutomo menceritakan keberhasilan kloning dari inti sel somatik Dina, saya mempertanyakan tentang keputusan Sutomo melakkukan kloning karena saya sudah katakan bahwa hal tersebut tidak dibenarkan baik secara etika di dunia kedokteran maupun secara agama islam.  Sutomo menjawab dengan didahului permintaan maaf kepada saya, bahwa Sutomo sekeluarga telah banyak berkonsultasi dengan berbagai ulama dan ilmuwan islam tentang kloning pada manusia, namun sebagian besar dari mereka menjelaskan bahwa alasan tidak diperbolehkan karena: 1) Proses pembuahan dan pembentukan janin tidak terjadi secara alami bercampurnya spermatozoa suami dengan sel telur istri; 2) Sianak yang akan dilahirkan tidak mempunyai bapak kandung karena prosesnya aseksual; 3) Keturunan si anak menjadi tidak jelas; dan 4) Tidak memiliki ibu kandung jika menggunakan rahim wanita lain. Jika ini terjadi maka kloning bertentangn dengan Al Quran karena secara teologis kloning manusia otomatis bertentangan dengan aqidah yang diyakini umat islam.

Sedangkan kloning yang dilakukan keluarga Sutomo menggunakan inti sel somatik dari Dina anaknya Dedy Sutomo yang jelas asal usulnya , keturunan Dedy dan Dini istrinya.  Demikian juga dengan pertumbuhan janin selama kehamilan ada dalam rahim Dini istrinya Dedy dan ibunya Dina.  Sedangkan dalam proses kloning ini yang menumbuhkembangkan janin dari inti sel somatik Dina (yang pernah ada) ke dalam sel telur Dini ibunya, jadi bukan merupakan suatu penciptaan baru.  Garis keturunan si anak juga jelas.  Selain itu teknologi kloning tidak memasuki wilayah kekuasaan tuhan, dan tentunya tanpa seizin Allah SWT tidak mungkin kloning akan berhasil.  Pertimbangan itulah salah satunya yang dijadikan alasan Sutomo melakukan kloning.

Kecemasan saya yang merasa ikut berdosa atas kloning yang dilakukan keluarga Sutomo

Jika keluarga Sutomo sangat bergembira, namun tidak demikian dengan saya.  Saya masih merasa berdosa atas keputusan Sutomo mengikuti program bayi kloning akibat terinspirasi dari cerita saya, seolah-olah bahwa saya berperanan besar dalam menganjurkan kloning tersebut.  Padahal menurut ketentuan agama islam bahwa mengkloning manusia adalah dosa apalagi kloning cucunya Sutomo ini berasal dari sel somatik dari orang yang telah meninggal.  Jadi pemikiran sederhana orang awam bahwa upaya ini sama saja dengan menghidupkan kembali orang yang telah meninggal, sehingga dekat dengan menentang kekuasaannya Tuhan.  Pemikiran seperti ini seringkali muncul dalam benak saya sehingga membuat tingkat kecemasan saya memuncak.

Ditengah-tengah jiwa saya yang galau ini, saya melihat Sutomo menemui saya dengan membawa kedua cucunya Dinda dan Dindi yang memang sangat mirip dan cantik.  Saya menjadi terperangah dengan menyaksikan cucu kembar Sutomo yang sangat mirip.  Kedua gadis remaja tersebut seolah-olah memandang saya dengan sinis dan menyalahkan saya sebagai penyebab mereka kembali kedunia padahal mereka sudah merasa nyaman di alam barzah yang damai.  Hal ini menambah kegelisahan dan kecemasan saya yang semakin merasa berdosa ikut andil melahirkan Dinda dan Dindi kembali ...dan...akhirnya saya berteriak secara histeris.........dengan napas yang terengah-engah....saya dibangunkan istri saya.....yang bertanya mimpi apa Pah....... Sayapun lompat dari tempat tidur ....dan mengucapkan Astagfirullahaladzim......dan ditangan saya masih tergenggam handphoe dengan konten dilayarnya bertuliskan “Kloning Pada Manusia....Tinggal Menunggu Waktu Saja”.  Ohhh rupanya cerita diartikel ini yang telah membawa saya mimpi berkepanjangan.......

Bogor, 27 Februari 2022

Sjamsul Bahri

 


Write a Facebook Comment

Leave a Comments