Scroll to top

PIL PAHIT MENJELANG IDUL QURBAN
Foto: http://infodokterhewan.blogspot.com/ #
User

PIL PAHIT MENJELANG IDUL QURBAN

PIL PAHIT MENJELANG IDUL QURBAN

Kabar kurang menggembirakan datang dari propinsi  Jawa Timur. Ditengah euphoria masyarakat menyambut "akhir" dari pandemi menuju endemi, kisruh minyak goreng dan kejadian hepatitis akut yang belum diketahui penyebabnya tiba-tiba saja muncul berita outbreak Penyakit Mulut dan Kuku di empat Kabupaten di Propinsk Jawa Timur. Kabupaten tersebut digolongkan sebagai daerah Gerbangkertasusila yaitu termasuk Gresik-Bangkalan - Mojokerto- Sidoarjo - Lamongan, salah satu wilayah pertumbuhan ekonomi penting di Jawa Timur. 

Tentu saja bagi kalangan dan jajaran peternakan dan kesehatan hewan kejadian outbreak ini menyentak perhatian dan pikiran, karena sudah sekian lama sejak tahun 1986  Indonesia telah mendeklarasikan sebagai negara yang berhasil membebaskan dari Penyakit Mulut dan Kuku ( PMK)..

Baca Lainnya :

 Tidak tanggung tanggung deklarasi ini diakui oleh Badan Dunia Kesehatan Hewan ( OIE) yang bermarkas di Paris Perancis. Indonesia patut bersyukur waktu itu karena upaya mengepung penyakit ini menunggu 100 tahun lamanya sejak pertama kali di ketemukan di daerah Malang tahun 1887 oleh Bosma. Upaya keras pembebasan nya yang dilakukan secara massif dan sistematis sejak 1983 berhasil membebaskan Indonesis dari PMK yang sangat menular dan berdampak penting pada perdagangan ternak dan hasil ternak secara nasional, regional. dan internasional. 

SISI LAIN KEBERHASILAN

Keberhasilan Indonesia untuk pembebasan PMK patut di apresiasi. Dengan dana dan bantuan tehnis dari luar negeri yang ber trilliun triliun itu, dan mempertimbangkan  dampak yang ditimbulkan nya serta upaya kegiatan lapangan memang telah sukses membawa Indonesia sebagai  salah satu dari negara lain yang bebas yakni Amerika Serikat, Kanada, Australia dan New Zealand.

 Tapi tahukah anda bahwa bebasnya Indonesia itu membawa berbagai konsekwensi yang mungkin tak terpikirkan oleh kita semua. 

Bebasnya Indonesia  menetapkan kebijakan maximum security.Dengan kebijakan ini maka segala upaya, tindakan langkah yang dilakukukan untuk menolak dan mencegah masuknya penyakit hewan menular berbahaya dari luar negeri ke dalam wilayah NKRI yang kemungkinan terbawa oleh ternak, bahan asal ternak dan hasil ternak, serta bahan hasil industri peternakan lainnya dapat diterapkan. 

Tujuannya untuk melindungi pdan mengamankan usaha budidaya dan peternakan dalam negeri.. Kebijakan ini menyebabkan Indonesia harus selalu tergantung kepada Australia akan pasokan daging dan sapi bakalan dari Australia. 

Kebijakan ini memang telah sesuai dengan aturan perdagangan internasional yang telah mengatur perdagangan antar negara yang bebas dan tidak bebas PMK. Adanya ketergantungan   ini sejatinya karena kita tak pernah melintas berpikiran tentang manfaat dan peluang yang diberikan oleh OIE tentang bebasnya negara kita dari PMK. Kita sepertinya telah merasakan nyamannya menjadi negara bebas setelah 100 tahun ditikam oleh PMK. 

Dengan modal bebas dan mempertahankan kebebasan tersebut maka kita selalu berupaya menolak  terus ternak, hasil ternak dan hasil industri ternak dari luar negeri yang negaranya tidak bebss PMK. Kalau sekedar menolak saja, itu mah soal gampang wae  kata orang Sunda. Tetapi dengan memanfaatkan peluang bebasnya Indonesia sehingga mampu meningkatkan daya saing dan nilai tambah dengan mengekspor ternak dan hasil ternak barulah kita berkeringat dan seimbang antara penolakan dan pembatasan ketat serta peluang kesempagan yang diberikan. Sudah 36 tahun lamanya kesempatan itu diberikan sejak bebasnya Indonesis tahun 1986.

Jujur saja hal yang terakhir /ini tidak atau belum terpikirkan oleh kita semua. Kita terperangkap pada euphoria bebas penyakit lsaja, lupa akan peluang dan kesempatan yang diberikan.

Apakah dengan bebasnya dari PMK lantas terjadi peningkatan daya saing dan nilai tambah sapi kita. Apakah  kita mampu meningkatkan populasi sapi kita? Enggak juga. Malahan yang terjadi angka impor sapi bakalan dan daging yang makin meningkat. Daya saing yang masih  rendah  ditunjukkan dari harga yang lebih mahal dari ternak dan daging impor. 

Akibat lainnya Indonesia selamanya menjadi pasar yang empuk bagi produk sejenis yang juga dihasilkan oleh peternak lokal. Ironi terjadi karena produk tersebut harganya lebih murah dibanding dengan produk lokal. Sehingga upaha peningkatan daya saing dalam negeri terus dipertanyakan. 

PELAJARAN DARI OUTBREAK

Terjadinya ratusan kasus dan adanya kematian ternak pada kejadian  Outbreak PMK kali ini di Jawa Timur patut kita pertanyakan. Melihat perjalanan penyakit dan adanya kematian ternak, menunjukkan kasus ini telah cukup lama terjadi dan baru dilaporkan

Dalam surveilance penyakit yang seharusnya dilakukan secara rutin, merupakan alat untuk early detection, early  response dan early reporting.. Apakah alat ini berjalan dengan baik? Sistem ini seharusnya berjalan cepat  sehingga tidak berlarut seperti saat ini dijaman serba digital dan internet. Waktu di jaman tahun 1983 kita maklum kalau ada keterlambatan. Tapi di tahun tersebut secara rutin perkembangan kasus harian dilaporkan. Saya ingat betul bertugas merekapitulasi daftar kasus harian dengan nongkrongin telpon satu satunya yang dimiliki oleh Direktorat Kesehatan Hewan. Semua telpon yang tidak ada urusan dengan kejadian kasus wabah PMK diminta ditunda dulu. Sense of belonging benar benar dirasakan saat itu. 


Propinsi Jawa Timur dengan populasi sapi sebanyak 4,9 juta atau hampir 27-30% dari populasi nasional selama ni dianggap sebagai salah satu lumbung ternak penting secara nasional. Jawa .Timur setiap tahunnya tercatat  mengeluarkan 30.000 sampai 50.000 ekor sapi ke berbagai wilayah lainnya di  Indonesia


Dari segi penularan penyakit  kondisi.ini memlikii potensi penularan yang ssngat cepat. Karena virus PMK. dapat menjadi penumpang di tubuh    fernak me!ngikuti jalur perdagangan sampai ternak tiba di tempat tujuan. Virus ini dapat menularkan dengan kontak langsung selain menular melalui udara. Penukaran melalui udara ( air borne) ini hingga berjarsk 120 km. Jadi kita semakin percaya virus ini telah menyebsr ke mana mana. Laporan kejadian wabah tidak saja.menjadi alert bagi 4 kabupaten tertular melainkan menurut epidemiologi semua daerah yang berdekatan sudah jadi populasi ternak yang  at risk(terancam). 


Pelajaran penting dari outbreak ini adalah perlunya surveilance reguler sebagai tindakan mitigasi dan preventif. Sebab penyakit itu ibaratnya kelompok kriminal, sekali kita, lengah dapat timbul penyakit. Pelajaran Epidemi mengatakan perubahan keseimbangan antara agen penyakit, host atau individu dan environment atau lingkungan perlu diwaspadai timbulnya suatu penyakit. Keseimbangan neraca agen-host-environment perlu terus dijaga. 

REKOMENDASI

Kini Indonesia harus bersiap berdiri brrsamaan dengan negara lainnya yang endemis PMK. Turuti semua prosedur SOP pemberantasan wabah sesuai urutan yang garis besarnya dimulai dengan identifikasi sero typing virus. 

Kemudian berlanjut dengan pencarian vaksin yang homolog dengan berkoordinasi dengan Pusat PMK di Thailand Bangkok untuk produksi vaksin yang sesuai. Menyediakan dana operasional pemberantasan untuk memulai vaksinasi, bio security, biaya kompensasi ternak yang jadi korban PMK, biaya penutupan daerah, monitoring dan evaluasi serta rapat rapat koordinasi lintas sektor. 

Kepada Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan tentunya akan bekerja keras memberantas PMK di Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat sebagai prioritas utama. 

Kementrian Pertanian untuk pertama kalinya menerima musibah ini di era industri 4.0 sehingga semua alat, instrumen yang serba digital dapat menjadi contoh terbaik untuk mengendalikan wabah penyakit hewan dengan cepat. 

Badan Pangan Nasional hendaknya berpikir keras untuk penyediaan ternak qurban yang sudah didepan mata sehingga masyarakat memperoleh daging qurban yang ASUH dengan harga ternak yang tidak mahal. Impor sapi bakalan yang telah digemukkan sebelumnya mungkin menjadi jalan keluar untuk menambah stok ternak qurban, asalkan ternak tersebut sehat dan tidak cacat. 

Akhirul kata ternyata adagium mencegah itu lebih berguna dari mengobati itu menjadi benar adanya. Prevention better than cure

Jakarta, 7 Mei 2022


Write a Facebook Comment

Leave a Comments