Scroll to top

Televeteriner dan Permasalahan kode Etik dokter hewan
User

Televeteriner dan Permasalahan kode Etik dokter hewan

TELEVETERINER DAN PERMASALAHAN KODE ETIK DOKTER HEWAN DALAM ERA DIGITAL


Pada sebuah portal berita veterinary practice news yang ditulis oleh Kerri Marshall, DVM, MBA ini membahas mengenai profesi dokter hewan dan tantangan dalam era digital. Dalam tulisanya menyatakan bahwa mengenai revolusi industri yang telah berubah mempertanyakan mengenai etika dan legalitas profesi dokter hewan. 

Baca Lainnya :

“Bagaimana etika dalam era baru, era digital?”

Dunia yang sekarang kita tinggal sudah jauh berbeda dibandingkan dengan beberapa tahun silam. Terlihat dari hal sederhana ketika melakukan pemesanan taksi sudah lebih mudah, sebelumnya harus menunggu di pinggir jalan, sekarang kemudahan pemesanan hanya dengan sekali sentuh. 

Revolusi digital ini telah memasuki banyak aspek dalam kehidupan kita, termasuk dalam dunia praktisi bagi profesi dokter hewan dan hal ini mempertanyakan terhadap kode etik dan legalitas yang ada. Dunia seperti apakah yang akan digandrungi sebagai praktisi di era digital dan teknologi baru tersebut dengan melibatkan generasi sebelumnya untuk ikut andil dalam akses data digital? Akankah orang-orang akan tetap mematuhi peraturan kesehatan hewan? Terdapat elemen universal dalam etika yang dapat dipertimbangkan, seperti tantangan dalam merangkul dan menggunakan teknologi dalam praktek hewan yang dilakukan. Seluruh asosiasi dokter hewan bertanggung jawab dalam pembentukan ataupun pengembangan kode etik yang mana para dokter hewan mendukung akses digital bagi “pemilik hewan” di rumah dan atau kunjungan periksa yang dilakukan (house visit).  

Berkembang dengan inovasi 

Dunia kedokteran hewan dihadapkan pada perubahan yang cukup besar sepanjang sejarahnya. Hal ini merubah ekspektasi klien untuk berinteraksi dengan dokter hewan melalui teknologi seperti halnya yang terjadi pada bisnis lain, seperti hotel, restoran dan bank. Generasi millennial merupakan pemegang peranan dominan sebagai pemilik hewan diikuti dengan perkembangan segmentasi profesi dokter hewan. 

Berdasarkan Ahli ekonom, Milton Friedman, teknologi dan inovasi selalu memimpin yang terdepan, sementara etika dan peraturan mengikutinya. Seperti halnya kita harus mempertimbangkan bagaimana teknologi akan mengubah cara merawat hewan dan harus mempersiapkan tidak hanya perubahan yang terjadi secara drastic, namun memimpin dan merubahnya menjadi dokter hewan yang siap di era digital. 

Perlunya kewaspadaan 

Perubahan generasi dan pengaruhnya terhadap perubahan ekonomi pada teknologi dan profesi dokter hewan akan menghasilan akumulasi aset digital yang berharga. 

Asset digital ini memerlukan perhatian untuk dapat terlindungi baik sebagai data prediksi dan pencegahan terhadap penyakit hewan (dan manusia), serta kaitannya dengan penghasilan yang didapatkan. Kewaspadaan ini juga diperlukan untuk mencegah adanya penggunaan data untuk kepentingan komersial. Seperti misalnya, perusahaan dapat mengambil dan menjual data dari pekerjaan yang telah dilakukan oleh dokter hewan tanpa memberikan profit pada dokter hewan terkait. 

Pada bidang kesehatan manusia, aset digital disimpan oleh badan/organisasi yang memiliki payung hukum jelas dibawah pengawasan pemerintah (mis. Departemen Kesehatan Daerah, WHO, CDC di Amerika). 

Apa peran dokter hewan dalam membentuk etika baru dalam era digital? Apa peran paramedis yang turut serta terkait dalam menjaga kesehatan hewan? Meskipun praktek independen ialah mayoritas yang dijalankan oleh dokter hewan, bagaimana mereka memiliki hak suara untuk dapat menggunakan dan mengolah data pasiennya di masa yang akan datang? Bagaimana privasi klien akan tetap terjaga? Serta bagaimana kualitas terapi yang diberikan dalam usahanya memberikan penanganan antara tim dokter hewan dengan klien secara virtual? 

Dokter hewan, klien dan hewan harus tetap saling bersinergi meskipun dilakukan secara virtual, memanfaatkan teknologi gawai. Bagi praktisi yang cukup berani dalam mengambil tantangan untuk mengubah paradigma dengan memenuhi ekspektasi klien, maka teknologi sebagai jembatan untuk berkembang, berkompetisi dan membangun bisnis berkelanjutan serta berpartisipasi penuh dalam ekonomi yang berkembang. 

Permasalahan Etika Veteriner dalam penggunaan teknologi 

Satu, adanya etika dalam penggunaan data veteriner menjadi hal yang cukup sensitif dalam profesi, yakni “data klinik adalah big data (data berharga dalam jumlah besar)”. Kedua, memperhatikan terhadap privasi klien dan mempertahankan privasi pemilik hewan yang mana mereka telah mempercayakannya pada dokter hewan. Ketiga, ketika sudah memasuki pemanfaatan teknologi secara virtual dalam penanganan kasus, perlu diperhatikan untuk permasalahan yang mungkin berubah di masa yang akan datang dalam hubungannya antara dokter hewan, klien dan hewannya tersebut, bagaimana tetap berperan sebagai penasihat pemilik hewan sehingga diperlukan norma etika. Keempat, adanya perhatian etik dalam membagi data riwayat kesehatan yang dimiliki oleh individu dokter hewan atau praktek gabungan tertentu. 

Tidak hanya mengangkat permasalahan yang ada, beberapa kategori dibawah ini memberikan rencana etik yang dapat diterapkan di masa yang akan datang. Dalam hal ini, inovasi teknologi veteriner dapat berkembang saling berkolaborasi dan kompetitif.

Permasalahan etika dan penggunaan data 

Pedoman kode etik dokter hewan harus dipahami baik-baik dalam memilih teknologi untuk penggunaan data dunia kedokteran hewan karena hal tersebut sangatlah penting. Banyak teknologi baru yang sudah berkembang dalam hal penanganan pasien dan meningkatkan kemampuan akses klien untuk menggunakan data serta mengubahnya menjadi salah satu client experience.  Profesi dokter hewan berada di tepi jurang ketika kaitannya antara teknologi serta kemampuan yang didasarkan pada prinsip 4P: prevention (pencegahan), prediction (prediksi), personalization/precision (presisi), dan participatory (partisipasi) dalam menjaga kesehatan hewan. Namun bagaimanapun juga, kita tetap membutuhkan teknologi dalam mengolah data untuk membentuk alur kerja yang baik dan mengoptimalkannya.  Kita harus merangkul diri kita dengan pengetahuan, melalui pengetahuan yang dimiliki maka dokter hewan dapat ikut andil dalam pembuatan pedoman etika yang berkaitan dengan data. Bukan menjadi takut terhadap “big data”. Apabila dokter hewan memahami teknologi yang dijalankan dan integrasinya dengan kode etik, kita tidak hanya dapat membentuk norma etika yang baik pada masa generasi sekarang, namun juga kaitannya terhadap generasi sebelumnya. 

Etika penggunaan data hewan dan klien 

Dalam dunia praktisi, data klien dan hewan tersedia dan dapat diakses oleh dokter hewan. Dokter hewan memiliki wewenangnya sendiri dalam mengambil keputusan untuk bagaimana menggunakan (atau tidak) data tersebut. Beberapa perusahaan biasanya dapat membantu dokter hewan dalam menentukan manajemen informasi dengan mengidentifikasi kebiasaan dari klien tersebut. Namun hal ini tidak direkomendasikan oleh penasihat dokter hewan di Amerika, karena hal tersebut dapat menimbulkan ketidakadilan layanan penanganan kesehatan hewan yang diberikan. Hal ini menyimpang dari sumpah dokter hewan ‘untuk berjuang menjaga kesehatan dan kesejahteraan hewan’. 

Etika pemanfaatan data 

Kontrol sendiri data yang dimiliki (pemilik hewan akan berterima kasih kepada anda terhadap hal ini). Manfaatkanlah teknologi! Namun sekali lagi perlu diketahui bahwa dalam menggunakan dan memanfaatkan teknologi tersebut perlu dibekali dengan pengetahuan serta apabila kerja sama akan dilakukan dengan perusahaan tertentu, maka diperlukan kewaspadaan dokter hewan. Jangan melakukan persetujuan terhadap syarat dan ketentuan yang tidak jelas atau terlalu luas dalam pemanfaatan data tersebut. Berhati-hati dalam membaca syarat dan ketentuan serta lisensi persetujuan akhir yang dibuat dengan perusahaan sebagai rekan berbisnis. Diskusi perlu dilakukan dengan perusahaan sebelum memilih perusahaan mana yang akan dijadikan sebagai rekan reja dan memastikan bahwa representatif perusahaan dapat menjelaskan secara detail mengenai ketentuan pengolahan data dan pemanfaatannya.  

Di sisi lain, perlu dipertimbangkan juga ketika masa kerja sama dengan perusahaan telah berakhir. Apakah data akan dieliminasi atau tidak. Apabila eliminasi data akan dilakukan oleh  perusahaan, maka pastikan bahwa dokter hewan sebagai praktisi yang menjalankan dapat melakukan back-up data sebelum masa/kontrak kerja sama berakhir. 

Etika veteriner dalam perlindungan privasi 

“Medis merupakan salah satu sumber informasi ilmu pengetahuan. Sistem penanganan kesehatan memerlukan level teknologi yang melebihi digitalisasi terhadap riwayat medis. Dalam kurun waktu 10 tahun ke depan atau lebih dari itu, kita bisa saja sudah memiliki banyak data terkait yang dimiliki oleh individu tertentu dan yang menjadi tantangan adalah mengembangkan teknologi informasi untuk mengurangi hipotesa terhadap individu tersebut”, kata Leroy Hood, seorang medical futurist.  Untuk membuktikan mengenai big data, Google mengumumkan 46 miliar data yang diolah untuk memprediksi pasien yang akan pergi ke rumah sakit/membutuhkan jasa layanan rumah sakit. Tidak hanya kita dapat mengetahui bagaimana data tersebut dapat mengahsilkan, namun merupakan tantangan juga bagi individu terhadap privasi yang dimiliki selama penggunaan data tersebut membantu kebutuhan mereka. 

Hal ini juga merupakan tantangan bagi kita di dunia kedokteran hewan, kita memiliki tugas etika dalam menjaga privasi dari individu yang telah memercayakan data yang digunakan dengan tujuan untuk membantunya merawat hewan peliharaan mereka. Tren “Perawatan kesehatan yang didasarkan pada konsumen” membentuk pertanyaan pada dokter hewan: siapa yang berhak memiliki riwayat medis? Secara legalitas, dokter hewan memilikinya, tapi bisa saja dapat berubah. Dilema etika terhadap kontrol dan privasi, apakah pemilik hewan juga berhak untuk mengetahui riwayat medis dari hewan peliharaannya tersebut? Apabila ya, maka jajaran pemerintah harus memberikan aturan terhadap penanganan privasi tersebut. 

Etika terhadap privasi 

Berhati-hati dalam membaca pernyataan privasi terhadap teknologi yang digunakan. Tinjauan hukum tentang kepatuhan privasi sangat penting, mengingat adanya peraturan baru yang terjadi. Secara etika, dokter hewan harus mempertimbangkan kepercayaan klien terhadap perlindungan privasi dan berusaha keras dalam menjaga data tersebut, disisi lain usaha dalam meningkatkan pengalaman klien/client experience. Organisasi profesi dokter hewan mendukung praktisi untuk dapat menggunakan model regulasi privasi, sesuai etika dokter hewan yang terkait dengan keamanan dan privasi. 

Memberikan riwayat kesehatan 

Tidak ada pelayanan yang lebih baik dari seorang pemilik hewan untuk dapat memastikan riwayat kesehatan hewannya dapat terakses di saat mereka sangat membutuhkannya (misalkan: saat gawat darurat terjadi namun praktek dokter hewan langganan sedang tutup, atau saat klien sedang berjalan-jalan). Bahkan membantu bagi adopter baru yang memelihara hewan, akan memudahkannya ketika tempat penampungan memiliki riwayat kesehatan yang dapat bertautan dengan praktek dokter hewan. 

Ada banyak jenis persetujuan antara perusahaan terhadap dokter hewan atau data, apabila mereka membuat tautan (Application Programming Interface/API) jarang sekali yang ditemukan dapat akses data tersebut secara gratis. Pada umumnya sering ditemukan bahwa perusahaan membatasi akses data ke dokter hewan atau data tersebut. Solusi etika perlu dibahas mengenai hal tersebut untuk dapat membentuk keamanan serta membuka akses tautan dokter hewan yang selaras secara etika, sehingga dapat membantu akses bagi dokter hewan independent. 

Etika dalam membagi rekaman medis (interoperability)

Profesi dokter hewan dapat mengembangkan sikap terhadap penggunaan tautan API yang terbuka dan aman, sehingga selaras dengan standar etika tentang penggunaan data dan privasi. Seperti yang terjadi di Amerika, Digital Imaging Communications in Medicine (DICOM) yang membantu memberikan kebebasan untuk dapat mengirimkan hasil radiografi ke dalam tim radiologi untuk menyediakan pengalaman baik pagi pengguna (user experience). Tautan API yang terbuka ini akan memberikan kebebasan bagi dokter hewan untuk dapat memilih sistem, platform dan aplikasi yang sesuai dalam menjalankan prakteknya dan menghadapi klien. Sementara itu, tautan API memberikan kemudahan bagi praktisi untuk mengubah solusi teknologi apabila teknologi yang dipilih tidak selaras dengan norma etika dokter hewan. 

Kemudian saran lain yang dapat membantu antara pemilik hewan dengan dokter hewan ialah mengadopsi standarisasi Digital Companion Animal Clinical Summary (DCACS), yang dapat diterapkan pada platform dan aplikasi. Sementara itu, data dapat diperbarui melalui Practice Information Management System/PIMS yang dimiliki dokter hewan, sehingga klien dapat mengakses informasi terbaru dari status kesehatan hewan ketika mereka sangat membutuhkannya. Standarisasi ini berupa no ID microchip, vaksinasi, alergi produk, kondisi klinis aktif, riwayat emosional hewan, pemberian terapi yang sedang dijalankan, dan lain sebagainya. Bidang informasi klinis kedokteran hewan semakin berkembang secara ilmu pengetahuan dan menyatu dengan teknologi informasi, komunikasi, sosial dan tingkah laku, dan di sisi lain dokter hewan dapat meningkatkan kualitas pelayanan dan kemanan terhadap kesehatan pasien. 

Etika melakukan konsultasi televeteriner

Konsultasi virtual secara langsung/real time (telepon audio atau video) dan tidak langsung (mengirim pesan, email) merubah keterikatan hubungan dokter hewan, klien dan hewan dari interaksi yang berada di ruang periksa menjadi di rumah klien dengan memanfaatkan komunikasi teknologi. Berdasarkan hal tersebut, dapat dibayangkan apabila 80% dokter hewan telah memanfaatkan teknologi dalam penanganan seara virtual, termasuk televeteriner ini. Perencanaan yang matang akan membantu praktisi (baik mandiri atau korporat) dan membantu masa transisi dan adaptasi tim yang terlibat. Perencanaan ini harus disertai dengan kewaspadaan meninjau dan membuat norma etik, seperti memahami batas hukum yang berlaku terhadap perubahan. Memiliki kerangka etik dalam memilih teknologi televeteriner memberikan kepercayaan diri bagi dokter hewan untuk maju dalam pemanfaatan teknologi yang selaras bagi pemilik hewan dan dokter hewan pun dapat menjadi penasihat yang baik secara virtual dalam memberikan keputusan penanganan kesehatan bagi hewan yang dimiliki. 

Menjadi praktisi digital yang beretika 

Pemilik hewan milenial akan memanfaatkan pengaaman digital teknologi sebagai pilihan mereka terhadap dokter hewan. Pengalaman digital yang semakin berkembang dan perdagangan elektronik yang terintegrasi dengan atau merubah kerangka kerja yang sekarang, dokter hewan perlu untuk mengembangkan proses memilih teknologi yang selaras secara etik dan memberikan kualitas pelayanan yang terbaik. Kolaborasi antara PIMS merupakan salah satu jalan untuk memastikan bahwa mereka telah masuk dan memahami landasan etika terkait dengan praktisi digital. 

Membayangkan masa depan 

Ketika masa depan sudah tergambar, hal itu tidak memberikan ketakutan yang berarti terhadap banyaknya pertanyaan yang tadinya belum terjawab menjadi perlahan mulai terjawab dari sekarang apabila telah memutuskan norma etik sebagai batasan untuk memberikan pengalaman yang baik bagi klien/client experience, begitu pula dengan kualitas penanganan kesehatan yang diberikan. Saat ini kita berada di posisi strategis dimana kita harus tetap berperan sebagai dokter hewan yang memberikan nasihat kepada klien, menggunakan pengetahuan dalam penanganan kesehatan hewan serta bijaknya dalam mengikuti batasan etik terhadap teknologi digital.

Solusi teknologi dapat membantu dokter hewan untuk tetap terikat dengan klien, menjaga dan mengawasi kesehatan hewan peliharaan dan keluar dari gelombang ekonomi yang tidak tentu, sebagaimana kita memasuki paradigma baru – dimana pedoman digital berperan besar dibandingkan dengan bertemu langsung kepada pemilik hewan. Pedoman etik memastikan untuk dapat terautentikasi dan relevan terhadap perubahan paradigma ini. 

Pastikan bahwa kita telah bersiap terhadap adanya landasan etika ini dan berdiskusi untuk menentukan perubahan. Profesi kita berperan penting dalam hal ini. 

Contoh teknologi yang dapat dijalankan oleh dokter hewan:

1. Connected device/perangkat terhubung

2. Chronic disease management tool/manajemen penyakit kronis

3. Artificial intelligence/kecerdasan buatan

4. Genomics/genomik

5. Preventive care plans and pet medical insurance/rencana kesehatan hewan dan asuransi kesehatan hewan

6. Platform and pet care ecosystems/Wadah bagi ekosistem kesehatan hewan 

Contoh teknologi yang dapat dijalankan oleh pemilik hewan 

1. Connected devices/Kemudahan penggunaan perangkat terhubung 

2. Category apps – plug and play all your client apps into one platform/wadah dengan berbagai kategori dalam satu aplikasi 

3. Medication reminders as smartphone banners/pengingat jadwal penanganan kesehatan hewan

4. Daily wellness programs and activity tracking/Kesehatan harian dan melacak aktivitas yang dilakukan 

5. Connection to the non medical pet care community/Koneksi ke komunitas

6. At home televeterinary consultation and diagnostics/televeteriner atau konsultasi secara virtual  


Sumber: https://www.veterinarypracticenews.com/ethical-issues-for-todays-veterinarian-in-the-digital-age/3/



Write a Facebook Comment

Leave a Comments