Scroll to top

TOKOH NASIONAL DIES NATALIS UGM ke 72, FKH ke 75 dan HUT RI ke 76.
User

TOKOH NASIONAL DIES NATALIS UGM ke 72, FKH ke 75 dan HUT RI ke 76.

Judul lukisan: "TOKOH NASIONAL. DIES NATALIS: UGM ke-72, FKH ke-75 dan HUT RI ke-76.

Ukuran: 69 X 49 Cm, paint  oil on canvas.

Aliran: Naturalis-realis.

Baca Lainnya :


Narasi:

Jepang menyerah kepada Sekutu pada tanggal 14 Agustus 1945 setelah kota Hiroshima dan Nagasaki dibom nuklir oleh Amerika maka Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945. Setelah itu Bangsa Indonesia semakin terus berjoang dan bergolak di era Revolusi fisik apalagi dalam masa penyerbuan Belanda tanggal 19 Desember 1948. Sistem pendidikan pun mengalami dinamikanya sendiri.

Sesuai dg uraian dalam Laporan Dies Natalis tahun 1947 Balai Perguruan Tinggi Gadjah Mada (BPTGM) swasta tertulis tokoh-tokoh yang mempunyai pikiran untuk mendirikan BPTGM.

Pada tanggal 24 Januari 1946 di Gedung  SMT Kotabaru, Yogyakarta, diadakan pertemuan antara beberapa orang cerdik-pandai untuk menggagas pendirian Balai Perguruan Tinggi (universitas) swasta di Yogyakarta. Sebagai Ketua Promotornya adalah Mr. Boediarto dan didukung kawan2nya yang lain berjumlah 12 orang.

Pada tanggal 3 Maret 1946 di Gedung KNI Malioboro Yogyakarta diadakan pertemuan resmi untuk mengumumkan berdirinya BPTGM swasta dg bidang ilmu Fakultas Hukum dan Fakultas Kesusasteraan.

Disini tidak dilupakan bahwa yang memberikan dukungan sebesar-besarnya untuk berlangsungnya pertumbuhan Perguruan Tinggi Swasta ini adalah Sri Sultan Hemengku Buwana IX. Namun Fakultas swasta ini ditutup sesudah penyerbuan Belanda ke Yogyakarta.

Sejarah berdirinya Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) mempunyai dinamikanya sendiri. Sesudah RI diproklamasikan maka atas usul Kepala Jawatan Kehewanan RI (R. Soetisno) pada bulan Maret 1946 Menteri Kemakmuran RI telah membentuk Panitia Pendirian Sekolah Dokter Hewan Tinggi yang anggotanya antara lain Prof. Soeparwi dkk.

Berdasarkan atas usul dari Panitia ini maka dg SK Menteri Kemakmuran RI 20 September 1946 No. 1280/a/Per. Sekolah Dokter Hewan di Bogor telah diangkat menjadi Perguruan Tinggi Kedokteran Hewan (PTKH).

Oleh karena pada waktu itu transportasi antara Bogor dg tempat lain sangat sulit, dan untuk menjaga kemungkinan PTKH Bogor diserbu Belanda maka dg persetujuan Kementrian Kemakmuran RI dan Ketua PTKH Bogor, dalam tahun 1947 di Klaten dibuka kesempatan untuk mengadakan pendidikan paralel Tingkat 1 (satu) guna mencegah jangan sampai  terjadi kekosongan pada Tingkat 1 (satu) dan 2 (dua).

Sesudah pengembalian Pemerinrah RI di Yogyakarta maka PTKH disusun kembali bersama Perguruan Tinggi terdahulu di Klaten seperti Sekolah Tinggi Kedokteran, Sekolah Tinggi Teknik, sungguhpun waktu itu di Klaten belum ada penghentian tembak-menembak, tetapi sebagai persiapan telah dimulai proses pemindahan dari Klaten ke Yogyakarta.

Pada tanggal 1 Nopember 1949 gabungan Perguruan Tinggi Klaten dapat dibuka kembali dg resmi di Kadipaten (Kompleks Ngasem) Yogyakarta atas prakarsa Sri Sultan Hemengku Buwana IX yang dihadiri oleh Presiden RI pertama Dr. Ir. Soekarno.

Referensi:

1. Riwajat Perdjoangan Mendirikan UGM dan sekedar tentang Perguruan Tinggi lain di Indonesia dan Addendum Perdjoangan UGM dan Perguruan Tinggi lain dalam Revolusi Fisik, M.Sardjito dan H.Johannes (Ex-Presiden dan Ex. Rektor UGM). Dicetak kembali dari Berkala Ilmu Kedokteran UGM 1(2): 83-106 oleh Fakultas Kedokteran UGM.

2. Laporan 10 Tahunan,1959. FKH dan Peternakan, Prof. M. Soeparwi.

3. Selintas Sejarah 50 Tahun FKH-UGM 20 September 1946-20 September 1996, Fakultas Kedokteran Hewan, UGM.

4. Fakultas Kedokteran Hewan UGM. Dari Masa ke Masa 1946-2010, Fakultas Kedokteran Hewan UGM 2010.

5. Peran Hewan Laboratorium dalam Era Bioteknologi dan Profesi Kedokteran Hewan. Pidato Purna Bakti Prof. drh. H. Soesanto Mangkoewidjojo, M.Sc., Ph.D. Tahun 2003, FKH.UGM.

6. Kesan dan Pesan untuk Prof. drh. H. Soesanto Mangkoewidjojo, M.Sc., Ph.D. Tahun 2003, FKH UGM.

7. Tanaman Herbal Berpotensi Antidiabetik. Pidato Purna Tugas Guru Besar dalam Bidang Patologi Klinik FKH UGM serta Pameran Lukisan Tunggal Prof. drh. Bambang Hariono, Ph.D., APVet. 8 Nopember 2018 di Kampus Karangmalang, UGM.


Sumber ide dan inspirasi:

Mengenang kembali masa perjoangan Pelukis dalam menuntut ilmu Kedokteran Hewan UGM, kuliah dan praktikum di Kompleks Ngasem (Konga) selanjutnya pindah di Gedung Sekip Unit III UGM sampai lulus, berkarya, berbakti pada Bangsa dan Negara Indonesia. Alhamdulilah diakhiri Pidato Ilmiah Purna Tugas Tahun 2018 di Gedung baru Kampus Karangmalang UGM.

Mengenang dan berterimakasih atas perjoangan yang gigih para Senior dalam mewujudkan Kampus UGM di masa Revolusi Fisik dalam situasi dan kondisi amat sulit.

Mengenang dan berterimakasih serta apresiasi atas bantuan besar, keikhlasan Sri Sultan Hamengku Buwana IX atas terselenggaranya kegiatan akademik di Kompleks Ngasem dan terbangunnya gedung-gedung baru UGM. Sangat berterimakasih sekaligus apresiasi kepada Presiden RI Pertama Dr. Ir. Soekarno yang sangat mendukung berdirinya dan memberi dukungan untuk mengabdi kepada Bangsa dan Negara bagi institusi UGM.

Merayakan Dies Natalis: FKH UGM ke-75 (Lustrum XV), UGM ke-72 dan HUT RI ke-76 Tahun 2021.

Mencukil  kembali sejarah berdirinya FKH dan UGM untuk bekal pengetahuan dasar dan semangat belajar Warga Bangsa pada umumnya dan generasi penerus perjoangan FKH dan UGM pada khususnya 


Visualisasi gambar:

Sri Sultan Hamengku Buwana IX sebagai pelaku sejarah dan tokoh Nasional dalam pengembangan Fakultas-fakultas swasta di zaman Revolusi Fisik di Klaten kemudian pindah di Kompleks Ngasem sebagai langkah premordial terbentuknya Universitas Gadjah Mada (UGM).


Pesan moral:

"Jas Merah", dua kata bermakna dari Bung Karno, jangan sekali-kali meninggalkan sejarah Bangsanya. Sejarah merupakan himpunan peristiwa, kejadian, pengalaman, pelajaran pahit-getir, kesulitan bahkan kebahagiaan di masa lalu. Hal tersebut dapat dipakai sebagai landasan yang kuat guna meniti kehidupan berBangsa dan berNegara di masa depan untuk lebih baik dan maju.

" Gantunglah cita-citamu di atas langit" kata Bung Karno lagi, mengandung makna dalam menjalani kehidupan manusia wajib betcita-cita tinggi untuk mengubah, memperbaiki, meraih masa depan lebih sukses terutama harus tertanam pada setiap hati-sanubari generasi muda Bangsa. Setidak-tidaknya cita-cita setinggi langit....kalau gagal paling jatuhnya masih setinggi bintang. Bayangkan bila cita-citanya hanya setinggi pohon mangga maka bila gagal meraihnya paling jatuh ke tanah dan bonyook....

Cita-cita dan usaha menuju kemerdekaan RI telah  dirancang dan mengalami dinamika perjoangan sudah sejak lama dengan persiapan serta konsep yang sangat matang dan didukung oleh Rakyat Semesta. Alhamdulilah itu semua tidak  lepas dari berkah, karunia Tuhan YME. Demikian juga cita-cita ingin menjadi Doktet Hewan atau sarjana-sarjana bidang lain adalah sama saja, perlu dilandasi cita-cita yang solid dan terarah, melalui dinamika dan romantika pada zamannya masing-masing.

"Hidup adalah Perjoangan". Simak saja kinerja tubuh kita dari alat-alat atau sistem sampai kinerja super canggih sel-sel tubuh dengan perangkatnya guna mempertahankan mati-matian nyawa agar supaya tidak "oncat" (karena penyakit, gangguan-gangguan yang berpengaruh pada kebugaran tubuh dll.) yang notabene guna memenuhi "time zone" atau "life span" yang telah ditakdirkan oleh Tuhan YME pada makhluknya. Oleh karenanya kita gunakan waktu itu sebaik-baiknya supaya tidak mubazir.

Terakhir semua yang berkaitan dengan IPTEK, ketrampilan, kebisaan bahkan pengalaman yang baik wajib diamalkan sebagai tabungan amal jariah kita sebagai bekal "pulang" ke akhirat nanti. Amiin.


Mari kita saling mendoakan, saling menguatkan diri dengan tidak mengabaikan Prokes 6 M. Semoga esok hari kita masih bisa bercanda-ria bersama, melihat sinar Sang Mentari pagi dan menghirup udara segar dengan Oksigen gratis...tis! InsyaAllah kita semua senantiasa dalam berkah serta perlindunganNYA yang terBAIK. Amiin.

TAGS:

Write a Facebook Comment

Leave a Comments