Scroll to top

PERAN DOKTER HEWAN SELAMA PENANGANAN PANDEMI COVID-19
User

PERAN DOKTER HEWAN SELAMA PENANGANAN PANDEMI COVID-19

PERAN DOKTER HEWAN SELAMA PENANGANAN PANDEMI COVID-19 DALAM RANGKA HARI DOKTER HEWAN SEDUNIA (WORLD VETERINARY DAY)

Oleh: Ketua Umum PB PDHI Dr

Baca Lainnya :

 drh. M. Munawaroh. MM

Dokter hewan sebagai profesi mulia yang bergerak dibalik layar dalam memenuhi kesejahteraan manusia, sesuai dengan semboyan yang dijunjung “Manusya Mriga Satwa Sewaka” yang memiliki arti menyejahterakan manusia melalui kesehatan hewan. Berbagai bidang yang digeluti oleh dokter hewan, semua tidak terlepas kaitannya dengan manusia baik dalam pemenuhan protein hewani hingga penyakit yang terjadi pada manusia. Manusia, hewan dan lingkungan saling berkaitan antar satu sama lain dalam tatanan ekosistem.

Pendekatan One health

Manusia, hewan dan lingkungan tidak bisa terlepas antara satu sama lain karena mereka saling berbagi dalam ekosistem yang ditinggali. Centers for disease control and prevention mengungkapkan bahwa dasar konsep one health yaitu kolaborasi multisektoral, dan transdisipliner dengan penerapan baik local, nasional hingga tingkat global guna mencapai kesehatan yang optimal antara manusia, hewan, tumbuhan dan lingkungan terkait. Pendekatan one health memerlukan dukungan dari berbagai pihak, pemerintah, peneliti, dan pekerja dari berbagai latar belakang. Meskipun pendekatan one health ini masih terdengar asing, namun perlu diketahui bahwa penerapan konsep ini secara tidak langsung sudah dijalankan sejak tahun 1800-an. One health sendiri mengutamakan dalam keamanan makanan (sector kesehatan masyarakat), kontrol penyakit zoonososis dan resistensi antibiotika. Sayangnya, pendekatan one health di negara Indonesia masih belum optimal. Pergerakan satu sektor tidak akan optimal dalam mencegah atau mengeliminasi masalah yang berpotensi terjadi di masa depan ataupun yang sedang terjadi.

Zoonosis merupakan penyakit yang dapat menular antara hewan dan manusia, begitupun sebaliknya merupakan penyakit yang sudah seharusnya diwaspadai. Peneliti memperkirakan sekitar 6 dari 10 penyakit menular yang terjadi pada manusia dapat tersebar dari hewan, dan 3 dari 4 penyakit menular baru berasal dari hewan. Belum diketahui secara keseluruhan jumlah penyakit zoonosis tersebut, namun studi yang telah dilakukan diperkirakan mencapai 62% penyakit yang terjadi pada manusia bersifat zoonosis dan memungkinkan untuk bertambah. Disinilah dokter hewan ikut andil dalam menghadapi penyakit zoonosis, seperti pandemi yang saat ini tengah terjadi yaitu COVID-19.

Tentang COVID-19

COVID-19, disebabkan oleh Coronavirus (SARS-CoV-2), ditemukan pertama kali pada Desember 2019 di Kota Wuhan, Hubei, China. Coronavirus sendiri dapat ditemukan di manusia dan hewan, beberapa diantaranya tergolong zoonosis. Pada hewan, coronavirus dapat menyerang hewan ternak (babi, sapi dan ayam) dan hewan peliharaan (anjing dan kucing), coronavirus yang menyerang hewan berbeda dengan coronavirus yang menyerang pada manusia. Coronavirus tergolong menjadi beberapa jenis yaitu alpha-,beta-, gamma- dan deltacoronavirus.

Alpha- dan betacoronavirus umumnya menginfeksi mamalia, sedangkan gamma- dan deltacoronavirus dapat menyerang unggas, burung atau hewan domestik lain. Coronavirus sendiri dapat menyebabkan gangguan pada saluran pernapasan, gastrointestinal, hepatik dan atau penyakit neurologik baik di manusia dan hewan. Pada manusia, coronavirus sebagai penyebab SARS-CoV, MERS-CoV dan COVID-19 (SARS-CoV-2) ini mengakibatkan gangguan infeksi pada saluran pernapasan yang bersifat relatif ringan hingga berat.

Penelitian terkait COVID-19 masih berlangsung oleh peneliti dari berbagai belahan dunia dan hingga saat ini masih diperdebatkan penyebab utama COVID-19, beberapa studi yang telah dilakukan mengemukakan bahwa kelelawar dapat berperan sebagai kunci pembawa virus tersebut.

Jangan salahkan hewan

Pada 11 Maret 2020, WHO menyatakan wabah COVID-19 sebagai pandemik. Wabah yang bermula terjadi pada akhir tahun 2019 tersebut diduga berawal dari sebuah pasar, Hunan Seafood Market, yang diketahui menjual berbagai macam hewan hidup, seperti kelelawar, kodok, ular, burung, marmot, dan kelinci. Pada kasus outbreak yang terjadi di China, SARS-CoV yang terjadi pada tahun 2003 diketahui pasien pertama yang terinfeksi merupakan pekerja yang berkaitan dengan penjualan dan preparasi satwa liar untuk dikonsumsi oleh manusia, sedangkan pada kasus pertama kali munculnya COVID-19 diketahui 27 dari 41 pasien yang teridentifikasi secara laboratorium terhadap SARS-CoV-2 telah berkunjung ke pasar hewan Huanan. 

Apabila melihat dari kasus yang telah terjadi maka dapat diketahui bahwa virus dapat melakukan transmisi ke manusia salah satunya karena manusia melakukan penggabungan terhadap berbagai spesies hewan. Hal ini seperti yang terjadi pada pasar hewan yang menjual satwa liar bersama dengan hewan domestik lain dan aktivitas lain yang berpengaruh seperti menjadikan satwa liar sebagai hewan peliharaan, ataupun manusia yang mengonsumsi satwa liar tersebut. Hal ini tentu meningkatkan potensi terjadinya  penularan penyakit zoonosis lebih tinggi.

Disisi lain, perubahan habitat yang mengancam hidup satwa liar akibat eksploitasi oleh manusia juga berperan dalam penularan yang terjadi ke manusia. Hal ini menyebabkan habitat yang dimiliki oleh hewan berkurang dan membuat aktivitas interaksi antara satwa liar dengan manusia lebih dekat. Lebih banyak hewan yang kehilangan habitatnya berarti akan lebih banyak masalah yang bisa timbul di masa depan.

COVID-19 di Indonesia

Setelah pernyataan pandemik oleh WHO, presiden negara Republik Indonesia, Joko Widodo membentuk tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 dan menetapkan bahwa kejadian penyebaran COVID-19 sebagai bencana nasional sesuai dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2020. Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 membuat pedoman penanganan cepat medis dan kesehatan masyarakat di Indonesia sebagai pedoman upaya pencegahan penularan yang lebih lanjut. Upaya pencegahan dapat dilakukan dengan jaga jarak fisik (social distancing), tidak menyelenggarakan kegiatan yang melibatkan banyak orang dalam satu tempat, menghindari bepergian serta mulai bekerja dan beribadah dari rumah, serta beberapa upaya pencegahan yang diterapkan pada individu seperti rajin mencuci tangan, menghindari menyentuh area muka, etika dalam batuk dan bersin, mengonsumsi makanan bergizi seimbang dan multivitamin, serta melakukan olah raga ringan di rumah.

Tertanggal 23 April 2020, berdasarkan data yang dikemukakan oleh Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 diketahui bahwa kasus terkonfirmasi COVID-19 di Indonesia telah mencapai angka 7000-an kasus dan kasus global telah mencapai angka 2 juta jiwa. Studi yang dilakukan oleh  Shereen  et al., 2020 di Journal of Advanced Research membandingkan tingkat kematian yang disebabkan oleh SARS mencapai 9 persen, sedangkan SARS-CoV-2 (COVID-19) mencapai angka 3 persen. Meskipun begitu, angka penularan yang terjadi lebih tinggi terjadi disebabkan oleh SARS-CoV-2 dan penulis memperkirakan bahwa hal ini dipengaruhi oleh sifat virus tersebut.

Peranan dokter hewan

Keterlibatan dokter hewan tentu diperlukan selama penanganan penyakit zoonosis, termasuk kasus pandemik COVID-19, baik dalam upaya pencegahan hingga upaya pengobatan. Dokter hewan dapat berperan dalam melakukan surveillans dan monitoring penyakit yang berasal dari hewan, melakukan penelitian terhadap karakteristik penyakit tertentu dan kemungkinan penularan yang terjadi sebagai bentuk upaya pencegahan, berperan dalam penemuan obat ataupun vaksin, berperan dalam memnentukan kebijakan pemerintahan terkait kesehatan hewan serta kaitannya dengan manusia, berperan dalam keamanan serta kelayakan produk asal hewan selama krisis pandemik terjadi ataupun diluar dari itu, hingga peranan yang tampak sederhana namun cukup sulit dalam pelaksanaannya, yaitu membantu melakukan edukasi ke masyarakat serta peranan-peranan penting lainnya.

Meskipun peran tersebut tidak langsung berhadapan dengan manusia, namun tetap berkontribusi dalam kesejahteraan manusia, yang membedakan ialah melalui hewan. Karena kesehatan hewan juga berdampak dalam kesehatan manusia.

Belajar dari kasus zoonosis yang terjadi sebelumnya, yaitu virus avian influenza (flu burung)/H5N1 yang menyerang pada kelompok unggas dan burung, serta menyebabkan kematian pada manusia (termasuk di Indonesia) dan WHO mencatat bahwa manusia yang terinfeksi memiliki tingkat mortalitas mencapai 60 persen. Melalui buku pedoman pengendalian flu burung dinyatakan bahwa sejak tahun 2005-2017 terdapat kematian 168 orang dari 200 orang yang terjangkit di Indonesia. Puncak penyakit terjadi pada tahun 2007 dan angka terus menurun hingga tahun 2017. Tentunya dokter hewan ikut berperan dalam penanganan penanggulangan flu burung tersebut, baik dari surveilans, pengendalian penyakit pada hewan, komunikasi resiko, edukasi dan peningkatan kesadaran masyarakat, serta dalam pengembangan vaksinasi untuk avian influenza. Meskipun sulit diawal, kegiatan terintegrasi secara nasional baik lintas program dan lintas sektor terpadu perlu diimplementasikan secara vertikal maupun horizontal. Kembali lagi pada pentingnya penerapan konsep one health.  

Pada kasus pandemkc COVID-19 yang terjadi di Inggris, beberapa rumah sakit mulai membuka pekerjaan bagi dokter hewan serta dokter gigi untuk membantu menjaga sebagai pekerja sampingan pendukung, terutama dalam perawatan intensif (intensive care beds) karena tingginya kasus serta tingginya kebutuhan tenaga kesehatan, dimana yang sebelumnya rasio antara pasien dengan tenaga kesehatan 1:1 berubah menjadi 1:6. Namun tetap dokter hewan maupun dokter gigi tidak mengambil peranan dokter manusia dan perawat serta tidak mengambil keputusan medis, penanganan dan perawatan medis lainnya seperti intubasi, dan sebagainya.

Kasus COVID-19 pada hewan

Diketahui bahwa baru-baru ini ditemukan adanya kasus hewan yang terinfeksi oleh COVID-19 akibat penularan dari manusia. Namun, masih belum ada bukti yang menyatakan bahwa hewan dapat menularkan kembali COVID-19 ke manusia dan masih dalam penelitian lebih lanjut mengenai penularan COVID-19 antar sesama hewan.

 Beberapa kasus diantaranya, seperti kasus anjing yang terjadi pada anjing berjenis Pomeranian (17 tahun) dan German Shepherd (2 tahun) yang dinyatakan positif oleh SARS-CoV-2 melalui pemeriksaan khusus, namun kedua anjing sama sekali tidak menunjukkan gejala klinis meskipun diketahui bahwa pemilik anjing tersebut terdiagnosa oleh COVID-19. Kemudian kedua anjing tersebut dinyatakan negative setelah melalui karantina dan dalam kondisi baik, namun kematian terjadi pada anjing berjenis Pomeranian setelah tiga hari pulang ke pemilik. Para ahli menyatakan bahwa penyebab kematian anjing Pomeranian bukanlah disebabkan oleh SARS-CoV-2 melainkan adanya factor lain penyebab kematian anjing tersebut.

Kasus lainnya, seperti kucing di Belgium dan Harimau di New York. Pada kasus kucing di Belgium diketahui bahwa pemilik kucing terdiagnosa oleh COVID-19 dan kucing menunjukkan beberapa gejala klinis seperti gangguan pernapsan serta gangguan pencernaan, meskipun sampel menunjukkan hasil positif SARS-CoV-2 namun informasi terkait pemeriksaan masih diragukan karena prosedur pengambilan sampel tersebut. Tapi kondisi kucing telah membaik setelahnya. Berbeda dengan kasus yang terjadi di harimau yang berada di kebun binatang Bronx, New York, Amerika Serikat, harimau dinyatakan positif oleh SARS-CoV-2 setelah menunjukkan gangguan pada saluran pernapasan dan diduga bahwasanya harimau terinfeksi oleh salah satu staff kebun binatang yang terinfeksi asymptomatsc (tanpa menunjukkan gejala sakit). Saat ini kondisi harimau berada dalam pemantauan.

Meskipun begitu, perlu ditekankan bahwa hewan tidak dapat menularkan Kembali COVID-19 ke manusia dan belum ada penelitian ilmiah ataupun kasus yang ditemukan. Oleh karena itu, kewaspadaan tetap diperlukan, termasuk bagi pemilik hewan. Hewan peliharaan tetap berhak mendapatkan kesejahteraan hewan yang dimiliki.

Menjaga kesehatan hewan dan melindungi hewan

 

Belum ada bukti yang menyatakan bahwa hewan yang terinfeksi dari manusia berperan dalam penularan penyakit yang lebih luas. Penularan terutama terjadi antara manusia ke manusia lainnya. Penelitian lebih lanjut masih dilakukan terhadap SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 baik di hewan ataupun manusia. Kewaspadaan tentu diperlukan bagi banyak pihak dan dokter hewan turut berperan dalam pemberian informasi dan edukasi. Bagi pemilik hewan dengan kondisi sehat dapat melakukan beberapa hal, diantaranya:

-          Menerapkan pola hidup sehat dan kebersihan yang optimal. Membersihkan hewan (utamanya hewan peliharaan) secara rutin dan apabila memungkinkan untuk membersihkan (seperti memandikan hewan) sendiri.

-          Mencuci tangan secara rutin setelah kontak langsung dengan hewan, makanan, pakan atau setelah membersihkan kotorannya.

-          Melakukan konsultasi secara langsung dengan dokter hewan untuk kesehatan hewan peliharaan masing-masing individu.

Apabila kondisi pemilik hewan dalam keadaan kurang baik, atau hal terburuk yang terjadi ialah terdiagnosa penyakit COVID-19 maka disarankan bagi pemilik hewan terhadap hewan peliharaannya ialah:

-          Membatasi  interaksi langsung dengan hewan. Apabila memungkinkan, dapat meminta bantuan orang lain untuk mengurus hewan peliharaan tersebut (anggota keluarga, teman, tetangga, dan lainnya) .

-          Menghindari interaksi dengan hewan peliharaan seperti mengelus, meringkuk, dicium atau dijilat serta berbagi makanan.

-          Apabila memang mengharuskan untuk mengurus hewan peliharaan ketika sakit, cucilah tangan sebelum dan setelah melakukan interaksi terhadap hewan dan memakai masker. Penerapan kebersihan yang baik wajib dilaksanakan. Disisi lain, hewan dengan pemilik yang terinfeksi oleh COVID-19 disarankan untuk tetap berada di dalam rumah dan membatasi kontak dengan hewan lain.

Resiko penularan yang berasal dari produk asal hewan diketahui belum ada yang menyatakan bahwa produk asal hewan dapat berperan dalam penularan COVID-19. Namun, berdasarkan anjuran yang diberikan oleh WHO, sebagai upaya pencegahan maka saat mengunjungi pasar hewan, pasar basah atau pasar produk hewan tetap mengutamakan penerapan kebersihan yang harus dijaga. Hal ini  termasuk mencuci tangan dengan sabun setelah menyentuh hewan dan produk hewan, juga disertai menghindari menyentuh area mata, hidung atau mulut.

 

 

Referensi

1.       Centers for Disease Control and Prevention. 2020. Zoonotic Diseases. Akses dilakukan pada 23 April 2020 dengan tautan akses https://www.cdc.gov/onehealth/basics/zoonotic-diseases.html.

2.       Taylor LH, Latham SM, Woolhouse ME. Risk factors for human disease emergence. Philos Trans R Soc Lond B Biol Sci. 2001;356:983–9.

3.       Knobler, S., Mahmoud, A., Lemon, S., Mack, A., Sivitz, L., Oberholtzer, K. 2004. Learning from SARS: Preparing for the Next Disease Outbreak - Workshop Summary. Washington DC: The National Academies Press

4.       Lai, C.C., Shih, T.P., Ko, W.C., Tang, H.J., Hsueh, P.R. 2020. Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) and coronavirus disease-2019 (COVID-19): The epidemic and the challenges. International Journal of Antimicrobial Agents 55 (2020):105924

5.       Shereen, M.A., Khan, S., Kazmi, A., Bashir, N., Siddique, R. 2020. COVID-19 infection: Origin, transmission, and characteristics of human coronaviruses. Journal of Advanced Research 24 (2020) 91-98.

6.       Fan, Y., Zhao, K., Shi, Z.L., Zhou, P. 2019. Bat Coronaviruses in China. Viruses 2019, 11, 210.

7.       Johnson, C.K., Hitchens, P.L., Evans, T.S., Goldstein, T., Thomas, K., Clements, A., Joly, D.O., Wolfe, N.D., Daszak, P., Karesh, W.B., Mazet, J.K. 2015. Spillover and pandemic properties of zoonotic viruses with high host plasticity. Scientific Reports, 5:14830.

8.       Huang, C., Wang, Y., Li, X., Ren, L., Zhao, J., Hu, Y., Zhang, L., Fan, GG., Xu, J., Gu, X., Cheng, Z., Yu, T., Xia, J., Wei, Y., Wu, W., Xie, X., Yin, W., Li, H., Liu, M., Xia, Y., Gao, H., Guoe, L., Xie, J., Wang, G., Jiang, R., Gao, Z., Jin, Q., Wang, J., Cao, B. 2020. Clinical features of patients infected with 2019 novel coronavirus in Wuhan, China. www.thelancet.com Vol 395 February 15, 2020.

9.       Bell, D., Roberton, S., Hunter, P.R. 2004. Animal origins of SARS coronavirus: possible links with the international trade in small carnivores. Phil. Trans. R. Soc. Lond. B (2004) 359, 1107–1114.

10.   World Organisation for Animal Health. 2020. Questions and Answers on the 2019 Coronavirus Disease (COVID-19). Akses dilakukan pada 23 April 2020 dengan tautan akses: https://www.oie.int/en/scientific-expertise/specific-information-and-recommendations/questions-and-answers-on-2019novel-coronavirus/.

11.   American Veterinary Medical Association. 2020. SARS-CoV-2 in Animals, Including Pets. Akses dilakukan pada 23 April 2020 dengan tautan akses: https://www.avma.org/resources-tools/animal-health-and-welfare/covid-19/sars-cov-2-animals-including-pets

12.   Centers for Disease Control and Prevention. 2020. Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) If You Have Animals. Akses dilakukan pada 23 April 2020 pada pukul 0:07 dengan tautan akses: https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/daily-life-coping/animals.html.

13.   Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2017. Pedoman Penanggulangan Flu Burung. Jakarta: Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

14.   World Health Organisation. 2020. FAQs: H5N1 Influenza. Akses dilakukan pada 23 April 2020 dengan tautan akses: https://www.who.int/influenza/human_animal_interface/avian_influenza/h5n1_research/faqs/en/. The Guardian. 2020. Vets recruited to work in UK hospitals during coronavirus outbreak. Akses dilakukan pada 23 April 2020 dengan tautan akses: https://www.theguardian.com/science/2020/apr/09/vets-recruited-to-work-in-hospitals-during-coronavirus-outbreak


Write a Facebook Comment

Leave a Comments